Puskesmas Naioni Kupang

Warta Puskesmas

Rofina Solot Laot

Rofina Solot Laot

Staf Sanitarian Puskesmas Naioni - Kecamatan Alak

Website URL: http://pusknn.dinkes-kotakupang.web.id Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

       

IMUNISASI PADA MASA PANDEMI

Minggu, 07 Februari 2021 06:39

Selamat Pagi,Salam Sehat

Informasi bagi masyarakat Kota  Kupang,sehubungan dengan adanya gangguan jaringan telepon maka untuk sementara call center Brigadir Kupang Sehat (BKS) di ahlikan.Terima Kasih

Coronavirus disease atau COVID-19 menular melalui droplet (percikan ludah) yang mengandung virus atau melalui kontak dengan permukaan yang terkena droplet. Virus ini dapat masuk melalui mukosa saluran seperti hidung, mulut, dan mata. Lalu, bagaimana jika droplet tersebut mengenai bayi? Apakah bayi dapat tertular COVID-19?

Dilansir dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), penyebaran COVID-19 pada bayi baru lahir dapat saja terjadi melalui droplet yang ditularkan dari orang sekitar, seperti ibu/ayah, pengasuh, tenaga kesehatan, atau pengunjung yang mengidap COVID-19.

Di sisi lain, masih belum ada bukti kuat yang mendukung penularan dari ibu ke bayi selama dalam masa kehamilan atau pada saat proses melahirkan.

Hal ini selaras dengan pernyataan dari WHO bahwa sampai saat ini belum ada bukti atau laporan tentang transmisi vertikal COVID-19 dari ibu ke janin. CDC juga menegaskan bahwa virus SARS-CoV-2 tidak ditemukan pada cairan ketuban.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga mempublikasikan hasil penelitian kecil yang mereka lakukan. Seluruh responden dalam penelitian yang merupakan ibu hamil terinfeksi COVID-19 dilaporkan melahirkan bayi sehat tanpa terinfeksi COVID-19.

Kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah belum ada risiko penularan virus corona dari ibu hamil ke janin selama masa kandungan.

Seperti yang dikemukakan di atas, kemungkinan bayi untuk terinfeksi SARS-CoV-2 adalah melalui droplet yang dapat ditularkan setelah bayi lahir. Jadi, apabila ibu terkonfirmasi positif COVID-19 berdekatan dengan bayi, tentu droplet dari ibu bisa saja menjadi media penularan ke bayi.

Lalu, bagaimana dengan ibu yang menyusui bayinya dengan ASI?

WHO menerangkan bahwa tidak ditemukan virus SARS-CoV-2 pada ASI ibu yang terkonfirmasi COVID-19.

Walaupun sampai sejauh ini virus corona pada dasarnya tidak terdeteksi dalam ASI, penularan bisa tetap terjadi melalui kontak fisik ibu berstatus positif COVID-19. Sehingga, ibu yang terkonfirmasi COVID-19 disarankan untuk memberikan ASI kepada bayi dalam bentuk ASI perah menggunakan botol susu yang steril.

Berdasarkan data yang dihimpun CDC, bayi 0-12 bulan merupakan rentang usia yang memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita gejala berat COVID-19 dibandingkan anak dengan usia lebih tua. Namun, informasi terkait gejala klinis dan derajat keparahan COVID-19 pada bayi masih sangat terbatas dan baru dilaporkan pada sedikit laporan kasus.

Gejala COVID-19 pada bayi kurang lebih mirip dengan orang dewasa, seperti:

  • Demam
  • Batuk
  • Pilek
  • Diare
  • Lemas
  • Napas cepat
  • Sesak
  • Nafsu makan menurun

Pada beberapa kasus yang dilaporkan oleh CDC, sejauh mana infeksi SARS-CoV-2 berkontribusi terhadap tanda-tanda infeksi dan komplikasi masih belum jelas karena gejala – gejala tersebut juga dapat ditemukan pada penyakit lain di bayi, seperti transient tachypnea of newborn, sindrom distress pernapasan pada bayi, dll.

Berdasarkan laporan kasus tersebut, mayoritas bayi cukup bulan (usia kehamilan 37 minggu) hanya memiliki gejala ringan dan sembuh tanpa komplikasi atau bahkan tidak bergejala sama sekali.  Dilaporkan pula terdapat bayi dengan positif COVID-19 menderita gejala parah hingga membutuhkan ventilator.

  •  

 

 

Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut, khususnya air untuk minum dan makan.

Persoalannya saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air. 

Sebagai akibat penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan, di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 3,5 juta anak dibawah usia tiga tahun terserang penyakit saluran pencernaan dan diare   yang diakibatkan oleh bakteri Escherichia Coli (E. Coli), dapat dicegah dengan meningkatkan

akses air bersih, sanitasi, perilaku higienis, dan pengolahan air minum skala rumah tangga.

Menimbang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu agar air minum yang dikonsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan maka perlu

ditetapkan persyaratan kualitas air minum. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Mentri Kesehatan (Kepmenkes) No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Syarat air minum sesuai Permenkes itu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik

yakni bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya lainnya Kecenderungan penggunaan air minum isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat.

Pengawasan kualitas Air Minum dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel air pada depot air minum isi ulang untuk mengetahui kualitasnya apakah layak dikonsumsi masyarakat.

Depot Air Minum isi Ulang yg berada di wilayah kerja Puskesmas Naioni tersebar di kelurahan Naioni,

Memiliki tubuh yang ideal tentu merupakan dambaan semua orang.

8 Macam Buah Diet Yang Mengenyangkan

Selasa, 10 Desember 2019 08:34

Seluruh jajaran puskesmas optimis Naioni akan mencapai target yang telah ditentukan karena bantuan dari pihak sekolah dan masyarakat.

SD Negeri Naioni menjadi yang Pertama

Rabu, 01 Agustus 2018 19:00

            “Website adalah hal yang tidak lagi asing lagi sekarang apalagi di jaman Online.”

Kegiatan Pemantauan jentik berkala  di wilayah kerja Puskesmas Naioni di lakukan oleh tiga petugas sanitarian. kegiatannya di lakukan di tiga kelurahan yaitu kelurahan Naioni,Manulai II,dan Batuplat.yang di fokuskan pada rt-rt di tiap kelurahan  yang rawan terkena penyakit DBD.disampaing itu sekalian di lakukan kegiatan pembagian Abate ,IS Rumah dan Lingkungan.Dari tiga kelurahan tersebut,kelurahan Batuplat   yang paling rawan DBD dan sering dilakukan kunjungan rumah untuk PJB,Penyuluhan langsung,Pembagian Abate dan IS Rumah dan Lingkungan.

Dilakukan pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas sanitarian puskesmas .Kegiatan ini termasuk memotivasi masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Dengan kunjungan yang berulang-ulang disertai penyuluhan diharapkan masyarakat dapat melaksanakan PSN DBD secara teratur dan terus menerus.

Caranya  dengan mengunjungi rumah atau tempat umum untuk memeriksa tempat penampungan air (TPA), non TPA, dan tempat penampungan air alamiah, didalam dan diluar rumah/bangunan serta memberikan penyuluhan tentang PSN DBD kepada keluarga. Jika ditemukan jentik, anggota keluarga atau pengelola TTU diminta untuk melihat/menyaksikan, kemudian lanjutkan dengan PSN DBD (3M atau 3M plus). Lalu memberikan penjelasan dan anjuran PSN DBD kepada keluarga dan pengelola kebersihan tempat umum. Dan terakhir adalah mencatat hasil pemeriksaan jentik dan  melakukan analisa data.

 

 

PJB DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NAIONI

Jumat, 27 Juli 2018 07:13

Layanan BPJS Kesehatan kembali jadi perbincangan. Bermula dari kabar bahwa Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) menyurati Pengurus Besar Ikatan Dokter indonesia (PB IDI), agar mencabut notulen rapat.

Pertemuan tim advokasi penderita kanker payudara HER2 positif Juniarti Tanjung dengan perwakilan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan pada Senin, 23 Juli 2018, berakhir buntu setelah somasi dilayangkan tim advokasi akhir pekan lalu. Tim advokasi pun memutuskan mencari keadilan lewat jalur meja hijau.

Halaman 1 dari 2